Sunday, April 2, 2017

Indiependent

Dihadapan saya saat ini ada secangkir teh manis panas dan semangkuk ubi yang direbus bersama gula merah. Jangan dekat-dekat dengan saya, saya pelit. Dan hujan.

Hujan turun dengan sabar sejak siang tadi, hingga malam ini ia dan kawan-kawannya belum bosan membuat kegaduhan di genting rumah saya dan juga angin yang bersamanya cukup membuat selimut yang sedari tadi terlipat rapi di ujung kasur menjadi terbuka lebar dan menutupi sebagian badan saya.
Waktu menunjukkan pukul setengah 8 malam, namun sunyinya sudah seperti jam 2 pagi. Hanya suara iklan televisi yang sayup-sayup terdengar dari ruang tengah rumah, disertai gemuruh suara air hujan yang membuat nada khas di genting rumah saya, saya sedang berbaring menatap langit-langit kamar, menerawang, apa yang sedang saya lakukan. Pikiran mulai melayang. 

Sebenarnya saya sedang tidak ingin menulis ini, tapi seperti sebelumnya jika suasana hati saya sedang tidak karuan, menulisnya disini adalah obatnya. Saya sering menulis disini, namun tulisan saya disini harus melalui beberapa tahapan hingga bisa saya klik "publish" dan bisa dibaca orang-orang. Dari puluhan tulisan, biasanya hanya satu yang lulus dari kriteria layak publish. Bukan layak publish sih, tapi karena tulisannya lengkap. Why? karena saya kalo udah nulis, suka banyak godaannya, akhirnya idenya terlupa, akhirnya ga kelar dan ujung-ujungnya bakal terdampar di folder draft blog ini. Tinggal tunggu waktu aja buat ngapus puluhan tulisan yang berjejer di folder draft itu. Semoga blog ini lulus uji coba dan bisa publish. heheu

Sekitar sebulan yang lalu saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman saya, akhirnya saya bekerja di sebuah manajemen hotel. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah kerjaan idaman, tapi bagi saya ini tak lebih dari sekedar coba-coba dan refreshing. Saya tidak begitu memimpikan kerjaan seperti ini. "Coba aja supaya kamu tahu rasanya orang kerja kantoran, kerja dengan tim, kerja dibawah arahan bos dan bla bla bla, kalo ga betah ya nanti pindah" kata kakak kepada saya ketika saya meminta sarannya untuk mengambil atau tidak tawaran kerjaan itu. Kakak saya ini paham betul karakter saya, dia tau saya ga suka kerja terikat, ga suka kerja formal, tapi mungkin sebagai kakak ia ingin melihat saya mencoba berbagai hal agar punya beberapa gambaran tentang dunia kerja dan pengalaman.

Hari-hari yang saya lalui menjalani pekerjaan itu yah dibilang mulus tidak dan dibilang tidak mulus-pun tidak. Standar lah sih kalo kata orang. Ada asiknya karena kenal banyak orang, tau lingkungan kerja itu seperti apa, bisa jalan-jalan gratis bolak-balik gili (pulau kecil), nginap di villa yang harga sewanya sampai 8jt/bulan. Ada ga enaknya juga tapi ga mau saya kasih tau, karena keluhan bukanlah hal yang pantas diutarakan, biar saya dan Tuhan saja yang tahu, saya kan pelit.
Dan saya memutuskan resign dari kerjaan itu tepat di hari pertama bulan kedua. Jiwa saya memaksa saya untuk meninggalkan kerjaan itu, seperti ada yang mengingatkan saya bahwa sifat asli saya itu memang tidak suka hal-hal yang terikat. Jiwa itu bebas, buat apa kerja kalo jiaw tidak bebas? :))

Jadi, semenjak masuk kuliah saya mulai mengenal beberapa hal yang berbau indie, minoritas, melawan pasar, suka berlawanan arah. Tapi pada dasarnya jiwa saya ini adalah jiwa yang perasa, sangat sensitif dan peka. Tercampurlah dua elemen itu menjadi satu. Tahun demi tahun saya menjaganya, hingga kemudian membangun karakter saya yang saat ini, senang dengan hal yang orang lain tidak tahu, suka dengan sesuatu yang tak banyak orang suka, malah saya merasa tertantang untuk mencari hal-hal yang tak banyak diketahui orang dan merasa bangga jika hanya segelintir saja yang suka dengan apa yang saya suka, itu menandakan selera saya adalah selera orang-orang pilihan, premium dan langka.

Beberapa lagu dari band-band indie favorit terdengar ringan di telinga saya via earphone yang baru saya beli beberapa hari yang lalu. Nah, karena lagu-lagu inilah rasa "indie" saya muncul lagi ke permukaan. Seperti diajak kembali ke masa dimana jiwa independent saya sedang tumbuh dan berkembang dengan liar. Lagu memang punya memory tersendiri yang bisa membawa pendengarnya kembali di satu masa dan rasa yang memorial.

Saya lahir dari orang pintar dan kreatif. Bapak saya terkenal sangat kreatif dalam membuat sesuatu, salah satu masterpiece -thanks om idepp atas bantuannya menemukan kosakata ini- beliau yang paling fenomenal adalah sebuah kandang ayam 3 susun yang diletakkan di depan rumah, ya walaupun kini tak ada sisa ataupun bekas dari maha karyanya setelah semua ayam di kandang itu kami sembelih untuk menyambut lebaran. Ayamnya habis, kandangnya dipreteli dalam sehari. Padahal bapak membuat itu sendiri dan butuh waktu satu minggu untuk menyelesaikannya. Tapi saya tak bisa melupakan bentuk kandang ayam yang bentuknya seperti rumah klasik, agak miring ke kiri karena pondasinya kurang kokoh. Alfatihah buat bapak.

Jadi, saya memutuskan untuk melanjutkan hidup sebagai orang yang menjunjung tinggi karakter indie yang ada dalam jiwa saya. Indie menurut saya adalah dekat dengan kebebasan dan kreatifitas. Saya akan melanjutkan usaha yang sudah saya rintis dan mulai menyusun rencana untuk mengembangkan sebuah usaha baru. Tak lupa juga ada banyak ide dan rencana hebat untuk komunitas lari kesayangan saya, Runjani. Mendirikan kemudian membesarkan runjani hingga saat ini lebih berharga dari segalanya buat saya. Di runjani inilah letak ide kreatifitas saya terasah dan terlatih. Semoga jiwa-jiwa yang bebas dan suka dengan hal yang tidak biasa ini tetap terjaga, kemudian bisa melahirkan suatu hal yang indah dan keren dan juga bisa memberi hal positif dan bermanfaat bagi sekitar. Semoga.

Akhir kata, sampai sini dulu aja ya. kagak tau lagi mau nulis apa. Saya saat ini sedang melayang setelah mendengarkan lagu-lagu dari efek rumah kaca, bara suara, dan sekarang yang sedang diputar adalah Somos Libres dari Sore band.

Aaauuuuuuuuwwwwwwww ~






READ MORE - Indiependent

Thursday, February 4, 2016

Jatim Ultra 100K

Project besar itu dimulai dari obrolan iseng, "Malang-Surabaya, lariin lah".


Tulisan ini saya mulai dengan penuh suka cita, haru dan rasa bangga. Suka cita karena beberapa hari yang lalu akhirnya saya bisa membuat pembuktian pada diri saya khususnya, sebuah pencapaian terbesar sepanjang sejarah hidup saya, tak pernah memimpikannya namun saya berhasil melakukannya. Haru, karena sesuatu yang besar penuh dengan persiapan berat, pengorbanan, tekad dan kemauan yang kuat untuk dapat meraihnya. Bangga, karena saya bisa melakukan hal besar ini bersama dengan teman-teman RMR tercinta, teman yang pada awalnya hanya sebatas teman namun menjadi penyambung hidup saya dan hanya dalam satu hari saya dengan tidak melebih-lebihkan menganggap mereka adalah keluarga saya.

Project ini kalo tidak salah dimulai pada akhir november 2015, saat itu mungkin hanya iseng meng-iya-kan untuk ikut lari 100Km Malang-Surabya yang sedang dibahas di group line RMR (Run Malang Run), sebuah komunitas lari di Kota Malang. Hal itu berlanjut pada pertemuan pertama untuk membahas project ini. Pada pertemuan pertama saya hadir, ada beberapa orang yang sudah saya kenal dan ada beberapa yang kenal tapi belum akrab dan beberapa yang tidak kenal. Pertemuan pertama mulai membahas perihal jarak lari, waktu lari, sistematika lari dan syarat untuk mengikuti project ini.

Syarat untuk dapat mengikuti project ini adalah setiap pelari diharuskan berlari sejauh 130Km dalam kurun waktu 2 minggu saja. Hal ini agak berat menurut saya, karena saya harus berlari sejauh10km per hari selama 13 hari penuh dan hanya 1 hari libur untuk recovery. Bukan berat di jarak, tapi berat untuk lari terus selama 13 hari, saya mungkin tergolong pelari malas karena hanya lari kalo lagi mood saja atau karena ada yang ngajakin heuheuheu

Hari demi hari berlalu, saya disibukkan dengan skripsi. Saya harus melalui seminar hasil pada pertengahan Desember. Padahal skripsi saya tidak menunjukkan pertanda baik menuju semhas. Disamping itu saya belum menyelesaikan syarat untuk bisa mengikuti project yang diberi nama Trans Jatim Ultra 100K. Namun ternyata Tuhan berpihak pada saya, skripsi saya selesai 3 hari sebelum semhas ditambah pada saat semhas tidak banyak revisi yang mengganggu saya, ini berarti saya sudah bisa fokus untuk mengejar syarat 130K dalam  2 minggu. Tuhan lagi2 berpihak pada saya, cukup 9 hari saja saya sudah menyelesaikan lari 130km dengan porsi 70% trail track dan 30% road track. Oke, step pertama terlewati, saya resmi boleh mengikuti project gila ini.

Disamping persiapan dengan berlari, kami para pelari yang akan ikut dalam project ini beserta para tim support mengadakan latihan core bersama. Latihan core ini berfungsi menunjang kekuatan fisik, kalian bisa cari di youtube ada banyak tutorialnya. Latihan core diadakan pada rabu malam, berlokasi di Gor Unggul, Karanglo. Terimakasih sebesar-besarnya kepada mas Geoffery yang telah menyediakan lapangan futsal untuk kami berlatih core. Hampir setiap minggu saya tidak pernah absen untuk ikut latihan core ini, disamping karena memang dirasa harus mengikuti latihan ini saya juga memang senang dengan latihan2 macam begini dan juga kalo latihan dalam ruangan saya bisa mendapatkan ikatan batin dengan para pelari dan tim support yang nantinya akan sangat dibutuhkan pada saat project berjalan.

Pertemuan kedua diadakan, namun hanya sedikit yang hadir dikarenakan musim liburan. Pertemuan hanya membahas rute lari yang akan dilewati dan persiapan2 yang harus dilakukan bagi pelari menjelang hari H. Pertemuan selanjutnya diadakan via gruoup line, pada pertemuan kali ini persiapan sudah mulai menunjukkan peningkatan, banyak masukan dari para pelari dan tim support agar acara ini dapat berjalan lancar nantinya. Pertemuan ketiga diadakan seminggu sebelum race, dan semua pelari dan tim support harus hadir. pertemuan ini sudah mulai membahas hal-hal yang penting bagi pelari dan tim support. Dan pada pertemuan ini sudah dipastikan ada 13 pelari yang ambil bagian dan 10 orang tim support yang membantu. Alat dan keperluan yang dibutuhkan mulai dijabarkan agar nanti semua siap pada hari H.

Seminggu sebelum hari H, saya mulai panik. Persiapan lari yang saya lakukan sangat buruk, dikarenakan efek cuaca kota malang yang sangat buruk, hujan sering turun tanpa adanya tanda yang jelas, tiba tiba saja jatuh ke bumi membuat saya jarang sekali berlatih berlari. Jika dihitung selama seminggu terahir sebelum hari H saya cuma berlari 3 hari saja dengan jarak total kurang lebih 20Km. Disamping itu, seminggu sebelum hari H, saya mulai mengatur pola makan. Total selama 5 hari sebelum race saya tidak makan nasi, saya hanya makan oat, pisang, roti gandum, kentang dan telur. Aneh dan tidak enak memang, tapi ini demi Bungkul-Perak-Bungkul!

Sabtu, 30 Januari 2016 Pukul 13.00
Meeting point berada di Gor Unggul, Karanglo, Malang. Para pelari dan tim support mulai berkumpul satu persatu di lokasi yang juga menjadi titik start ini. Malam sebelum race ini, tidur saya tidak nyenyak. Paginya makanpun tak enak. Saya sudah tidak sabar ingin cepat berlari, hal besar yang 2 bulan ditunggu2 membuat batin tersiksa ternyata.


Semua pelari dan tim support sudah berkumpul di titik start. Kami juga kedatangan reporter dari koran lokal. selain itu ternyata acara ini disupport oleh Phsycopreneur yang akan membantu kita penuh selama acara berlangsung. Satu jam menjelang waktu start, saya mulai memakai baju celana dan sepatu. Briefing mulai dilakukan 30 menit sebelum start oleh Koh Tommy, koordinator tim Support. Dan 15 menit kemudian seluruh tim support sudah meninggalkan lokasi menuju titik cek point yang sudah ditentukan.

Pukul 15.00, race di mulai dan semua pelari mulai berlari menyicil langkah demi langkah menuju Kota surabaya dengan jarak tempuh 100Km. Saya bersama 2 orang teman, endik dan obama berlari bersama dengan kecepatan yang saya tekan berada pada pace 7. Sedangkan pelari lain sudah ada yang melesat kedepan dan masih ada yang berlari di belakang saya. Dalam hati saya berkata, "akhirnya hari ini di mulai juga, mari buktikan sampai mana saya bisa bertahan, yang harus saya lakukan hanya terus berlari dan finish".

CP1, Bukit Sentul Lawang (Km 12.6)
Pukul 16.30, saya tiba di cekpoint pertama, dengan kondisi terengah-engah namun senang dan bersemangat. Saya berhasil sampe di titik aman satu, kondisi cuaca masih bagus, tidak panas tidak dingin. Angin di jalan tidak terlalu kencang, namun saya haus sekali. Di titik ini, saya minum satu botol pocari sweat kemudian lanjut lari lagi menuju CP2.

CP2, Indomaret Purwosari (Km 19.8)
Pukul 17.18, saya tiba di cekpoint kedua, dengan kondisi kaki mulai merasa sakit di bagian pinggang bawah. Disini saya disambut tim support yang sudah siap memberikan makan dan minuman bagi pelari serta satu orang dari pshycopreneur yang membantu memberikan stretching bagi pelari yang mulai merasa 'kesakitan'. Setelah minum dan stretching sebentar, saya lanjut menuju CP3, disini saya mulai menggunakan headlamp karena hari sudah mulai gelap.

CP3, Taman Safari (Km 27.3)
Pukul 18.34, saya tiba di cekpoint ketiga yakni di taman safari pasuruan. Pada titik ini saya sudah melewati jarak lebih dari Half Marathon (21KM). Kondisi badan saya mulai tidak karuan, kaki mulai panas, betis pegel, paha tertarik. Setelah makan buah dan minum secukupnya, saya melanjutkan perjalanan menuju CP4 dan hari sudah gelap.

CP4, Masjid Jendral Chenghoo (Km 35)
Pukul, 20.10, saya tiba di cekpoint keempat yakni masjid jendral chenghoo. Saya sudah sangat kelelahan disini, namun saya masih sanggup berlari. Tim support sebagian berkumpul disini dan sebagian lagi sudah ada di cek point selanjutnya. Saya sempatkan sholat magrib dan isya di masjid ini dengan menjama' sholat. Saya berganti baju yang lebih terang karena hari gelap agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Layanan massage dan stretching dari pshyco sangat banyak membantu. kaki saya yang semula sudah sakit dan susah digerakkan, setelah diberikan perawatan terasa ringan dan segar kembali. Setelah bersiap2, saya mulai lanjutkan perjalanan kembali menuju CP5.

CP5, Pom Bensin Apolo (Km 41,7)
Saya tertatih-tatih di jalan menuju CP5. Selama di jalan saya mulai berjalan kaki ketika kaki sudah terasa sakit. Pukul 9.56 Malam, saya tiba di pom bensin Apolo yakni cekpoint5. Pada titik ini merupakan pencapaian besar saya yang pertama, ini adalah marathon saya yang pertama. Karena sebelumnya jarak lari terjauh saya hanya 30an Km saja. Ketika beristirahat di titik ini, tim support memberitakan bahwa di cp6 sedang terjadi hujan besar, tak lama setelah berita itu ternyata cp5 juga hujan. Ahirnya saya mempersiapkan jaket agar tidak basah saat berlari. Setelah siap, saya lanjut menuju CP6, dan hal yang tak diduga terjadi.

CP6, Stasiun Tanggulangin (Km 51)
Setelah bertanya tentang rute selanjutnya kepada tim support, saya berlari meninggalkan CP5 bersama 3 teman lain, Endik Obama Pietter. Ketika 2Km berlari kami menemukan percabangan jalan, kami bingung menentukan jalur yang tepat karena informasi yang kami terima berbeda2. Akhirnya saya bertanya kepada tim, dan dibertahu agar mengikuti jalur lurus. Akhirnya kami berempat sepakat untuk lurus, dan ternyata lurus yang kami kira adalah belok menurut tim support. 4Km kami berlari dan merasa aneh karena jalur yang dilalui bukan jalur protocol. Kami mampir sejenak untuk membeli minum diwarung sekalian memerikasi kembali jalur melalui google map. Tak lama ketika bertanya dan ngobrol kepada penjual minuman, Koh Tommy datang. Kalian nyasar! Jeder, hati rontok, sia2 pelarian 4km kami. Akhirnya saya meminta tim support untuk mengantar ke titik sebelumnya.
Dari titik kami diturunkan oleh tim support, kami lanjut berlari menuju CP6. Terasa lama sekali jalur yang saya lalui menuu Cp6 ini, padahal jaraknya hanya 7-8Km. Dengan kondisi jalan-lari-jalan saya berhasil mencapai titik CP6 pada pukul 12.38 Malam.

CP7, Alun-Alun Siduarjo (Km 58.4)
Setelah beristirahat sejenak di CP6, saya lanjut berlari menuju CP7. Sepanjang perjalanan saya menjumpai banyak sekali penjual makanan, ada nasgor, sate, bakmi, soto, lalapan. pas sekali dengan kondisi saya yang lapar, tp harus tahan untuk tidak makan makanan berat. Ada hal menarik menuju CP7 ini. Pada kondisi jalan yang masih ramai di jam dini hari, mungkin karena malam minggu, banyak anak2 muda nongkrong di pinggir jalan dan banyak anak2 muda yang mengadakan balapan liar ditengah jalan raya. Saya sedang berlari bersama dua teman saya, endik dan obama. Ketika melewati beberapa tempat nongkrong anak muda disepanjang jalan protokol kota siduarjo, satu teman saya tiba tiba dipukul oleh anak muda yang sedang mabuk. Dengan kondisi kami yang lelah dan letih, tidak mikir panjang langsung cari aman saja dengan berlari meninggalkan pemabuk tadi. Tak lama kemudian, sampailah kami bertiga di CP7 pada pukul 2 dini hari. Pada titik ini, kami disambut oleh Delta Runners yang ikut membantu memberikan makanan dan minuman kepada pelari. Di titik ini, saya sempatkan tidur sebentar, rencana tidur 30 menit dan ternyata saya tidur 1 jam. 
Bangun, siap2, kemudian saya lanjutkan lari menuju CP8.

CP 8, Giant Waru (Km 67)
Berlari dengan kondisi lelah, letih, lapar, sakit kaki, ngantuk sangat tidak dianjurkan. Namun ini adalah tantangan yang harus saya taklukkan dalam race ini. sepanjang perjalanan menuju CP8, saya gunakan strategi 5menit berlari dan 5menit berjalan karena kondisi kaki sudah amat sangat tidak baik karena ini pertama kalinya saya berlari ultra (lebih dari 42Km). Jarak 9Km yang biasanya saya lahap dengan waktu dibawah 1 jam, ternyata disini saya harus relakan menempuhnya dalam waktu 2 jam. saya tiba di CP8 tepat sebelum subuh tiba. Beberapa ratus meter sebelum CP8, saya berlari sendiri meninggalkan dua teman saya dibelakang. Ketika konsen berlari, saya melihat satu sosok waria tepat didepan saya, dia melambai namun saya tak menanggapinya, ketika saya sudah mendekat dia menggertak ingin mengejar saya, dengan posisi takut saya tambah kecepatan lari meninggalkan waria sialan itu. Di Cp8 saya berganti baju, celana dan sepatu agar kondisi badan bisa refresh kembali. Setelah siap, saya melanjutkan perjalanan menuju CP9, yakni Taman Bungkul, Surabaya.

CP9, Bank Jatim Darmo (Km 77)
Kondisi kaki yang sudah tidak baik membuat saya tidak sanggup lagi berlari menuju CP9. Ditambah dengan sepatu yang saya kenakan merupakan sepatu trail yang tidak cocok dengan kondisi aspal. Telapak kaki saya sudah sangat sakit sekali, walhasil sepanjang Cp8 menuju Cp9 saya hanya berjalan dan sempatkan beberapa meter saja untuk berlari agar tidak kehilangan irama. Pagi datang menyambut di kota pahlawan, ramai warga memenuhi jalan raya ada yang berjalan, berlari, naik motor dan mobil. karena hari minggu, kota ini sangat ramai dipenuhi orang-orang yang berolahraga. Mental saya untuk berlari sudah habis karena kaki yang tak kuat. Akhirnya saya sugestikan otak untuk menganggap ini adalah jalan2 santai pagi di kota surabaya seraya melihat2 pemandangan. Namun berjalan sejauh 10 Km tidaklah mudah, berkali-kali saya duduk istirahat karena kaki terasa panas. Langkah demi langkah saya jalani dan akhirnya saya sampai di CP9 pukul 7 lewat. Di titik ini kami disambut oleh Kendos runner dan Indorunners Surabaya yang ikut membantu memberikan logistik dan perawatan serta beberapa anggotanya menemani pelari menempuh jarak menuju CP terahir. Disini saya diberikan stretching oleh phsyco agar kuat melanjutkan perjalanan. Saya mengganti sepatu kembali menggunakan sepatu saya sebelumnya, dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju CP terakhir. Disinilah cobaan terberat.

CP10, Tanjung Perak (Km 88)
Tepat jam 8 pagi saya bersama endik melanjutkan perjalanan menuju CP10, yakni Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kondisi cuaca surabaya pada saat itu ngeri-ngeri sedap, kadang mendung kemudian tiba-tiba panas, seperti matahari disana ada 3. Namun, selama perjalanan ke Tanjung perak saya bertemu dengan rombongan pelari lain. Saat itu kondisi para pelari sudah tidak ada yang mampu berlari, dan hanya tersisa 8 orang pelari saja. Mas alfi, dari Delta Runners Siduarjo menemani rombongan pelari terakhir menuju perak hingga kembali nanti ke taman bungkul (Km100). Jarak antara Taman bungkul dan Tanjung perak menurut Map hanya 11Km saja, jika berlari seperti biasa jarak segini saya bisa tempuh dengan waktu satu jam saja namun karena kondisi tidak baik inilah jarak 11K ini saya tempuh dengan waktu 3 jam. Sepanjang perjalanan menuju perak, Koh Tommy selalu muncul tiap 1-2Km menawarkan minum dan memberikan 'tos' ajaibnya. Kenapa ajaib? Jujur di titik ini saya sudah hampir menyerah, namun setiap bertemu koh Tommy saya merasa lebih sanggup berjalan lagi. Akhirnya saya dan 3 teman lain sampai di Cp10 pada pukul 11 siang. Ketika break sebentar untuk memberikan es batu pada kaki saya yang kepanasan, tiba2 hujan turun dengan derasnya. Thanks god, ini hujan berkah! Cuaca panas seketika berubah menjadi adem. Tak lama kemudian saya dan 3 teman saya ditemani mas Alfi berangkat menuju garis finish yakni taman bungkul yang berjarak kurang lebih 12Km dari Tanjung Perak, inilah rombongan pelari terahir dalam race ini.
Langkah demi langkah saya tempuh, perlahan tapi pasti. Sepanjang perjalanan kami ngobrol ngalor ngidul membahas apa saja, hal ini supaya kami tidak bosan dan sedikit memanipulasi mental yang hampir terkikis. Tapi lagi-lagi, tim support berjasa besar disini, setiap 1Km saya bertemu mobil tim support yang memang mengawal rombongan terakhir ini dan lagi2 mental saya naik kembali. Ketika melewati jembatan merah yang bersejarah, kami break sebentar dan mengambil beberapa foto, makan cilok dan minum. Mba dewi tiba2 muncul dengan wajah khawatir melihat kami duduk ngemper di jembatan merah. "Saya pikir kalian nyasar, lama sekali soalnya makanya saya cariin". Oh god demi apa project ini dipenuhi orang-orang hebat :'') Kita lanjut!
Kami terus melangkah, akhirnya tiba di 2Km terakhir. Tim support yang lain sudah terlihat memberikan bantuan untuk menyebrang menuju jalan terakhir menuju finish. Hal yang bikin hati saya tersenyum adalah ketika Koh Tommy terus memberikan 'tos' setiap beberapa ratus meter saya berjalan. Ini karena jalan kami makin melambat dari sebelumnya, efek lelah dan cedera. "Jangan pikirkan COT, lanjut aja saya akan nunggu kalian sampe finish jam berapapun!" teriak koh tommy memberi semangat. Demi apapun, orang ini antara edan dan kelebihan baik. 

Saya dan rombongan pelari terakhir semakin mendekati garis finish, namun terasa sangat jauh. Kita sudah masuk jalana Raya Darmo, ini artinya beberapa ratus meter saja sudah tiba di taman bungkul. Saya sudah keluarkan semua tenaga yang tersisa, kaki terseok-seok, napas terengah-engah, berkali-kali peluh yang mengalir saya hapus dengan baju "Lari Sebentar" yang mulai kotor dan basah keringat. 
Akhirnya saya melihat koh Tommy mulai melambai-lambai, jujur saya ingin memeluk si 'bad ass' ini namun saya masih menyimpan gengsi hahahah. Ada pak heru yang sedang memegang kamera siap menjepret momen finish saya, ada mbak dhean juga disana melambai-lambai memberi selamat, saya jalan beriringan dengan idola saya menuju finish, Koh Tommy.
FINISH!!!!! Dengan powerwalk dan tidak berlari, sebenernya saya mau seolah-olah berlari ketika finish agar foto saya bagus nanti, tp yang saya pikirkan adalah saya sudah berusaha sejauh ini, berjuang sejauh ini, jatuh bangun, sakit, bahagia, ragu, hampir putus asa, saya tidak mau bersandiwara untuk akhir cerita. Sekelebat cerita tiba-tiba mengiang di otak saya, semua teringat kuat dimana ketika chatt pertama saya menuliskan kesediaan mengikuti race ini, pertemuan pertama membahas race ini, tawa dan peluh letih kesakitan bersama ketika latihan core di lapangan futsal, pertemuan terakhir di coffee toffee, suara mamak yang memberi semangat ketika saya menelponnya 2 jam sebelum berangkat menuju race, kesibukan pelari dan tim support ketika akan start, wajah para pelari yang masih tersenyum ketika di foto oleh tim support, cerita saya nyasar di porong sejauh 5K, cerita saya melihat bencong dan hampir dikejar, cerita si obama digampar orang mabuk, cerita sholat di chengho, cerita tidur di alun-alun, cerita powerwalk pagi hari buta di surabaya, kehujanan, kedinginan, kepanasan, sakit telapak kaki, sakit betis, sakit lututu, sakit paha, sakit bahu, sakit kepala, senyum ketika sampai di tiap CP, hampir menyerah di Km terakhir, semua cerita itu datang bertubi-tubi ketika saya menginjak garis finish, dan mata saya memerah kemudian mengeluarkan air mata yang tak bisa saya bendung akibat gulatan memory yang datang.
Saya menangis, cengeng, mungkin saya satu2nya orang di project ini yang menangis. lebay. Tapi bodoamat, saya terlampau haru dan bahagia dengan momen ini. Tos dari mbak dhean, dan pelukan dari pak Antok membuat saya semakin tak mampu membendung air mata. Namun cepat saya segera akhiri momen mewek ini, semua sudah selesai Tuhan. Kau mengabulkan setiap doa yang kupanjatkan ditiap langkah yang kuayunkan menempuh Km demi Km menuju 100Km.

Momen Finish !


Dengan samapinya saya di taman bungkul pada Pukul 02.10 siang, berarti saya resmi menjadi pelari Ultra. Saya finish dengan catatan waktu 23 jam 10 menit, 50 menit lebih cepat dari COT (Cut Off Time) yang ditentukan yakni 24 jam. 

Trans Jatim Ultra 100K bersama teman-teman dari RMR adalah hal paling besar yang saya raih sejauh ini. Saya berlari dari Malang menuju surabaya dari pukul 3 sore hingga pukul 2 esoknya, hampir 24 jam berlari. Tidak gampang menyelesaikan tantangan ini, dimulai dari track yang jauh, melewati jalan protokol yang sejatinya tidak pernah sepi kendaraan juga tantangan sendiri, posisi berlari yang 'contraflow' atau melawan arus membuat saya harus awas dengan kendaraan yang lewat. Tak jarang saya hampir ditabrak angkot, motor, mini bus, bus besar bahkan 'transformers' / truck besar.
Berlari sejauh 100Km dengan menempuh jalan protokol membuat saya hafal detail jalanan, kegiatan warga, tingkah dan prilaku pengendara jalan. Saya juga hafal bau knalpot tiap kendaraan terutama bus besar sekelas RESTU, AKAS, LADJU, TENTREM, atau truck tronton, truck molen dan truck gandeng, mereka punya bau yang hampir berbeda-beda.









Akhir kata, Saya yang lemah ini ingin mengucapkan terimakasih kepada :


Allah SWT, karena tanpa bantuan-Nya saya ini bukan apa-apa dan siapa-siapa.
-Orang Tua dan keluarga yang telah memberikan support pada saya, terutama Mamak :)

Orang orang hebat yang ikut berlari bersama saya,
- Pak Antok
- Akhmad Nizar
- Ryan Rumlak
- Chipon
- Obama
- Agus
- Endik
- Mas Pieter
- Mas Uzzy
- Bowo
- Ganang
- Mas Rizky

Para tim Support yang tidak pernah berhenti membantu, memberi semangat meskipun saya tau kalian juga tidak kalah lelah dan letih membantu kami para pelari,
- Mas Ahmadi 27
- Mas Fahmi
- Mba Dean
- Mba Dewi
- Mba Ema
- Pak Heru
- Abah Rizal
- Mas Kris
- Dath
- Mpas
- Teman2 dari Phsycopreneur, Delta Runners, Kendos dan IR Surabaya.
And special thanks for Koh Tommy, Thanks a lot man. Thanks :'')

Terimkasih juga pada penyandang dana sehingga project ini dapat terlaksana,
- Mas Geoffery
- Pak Heru
- Pocari Sweat
- Teman Pak Heru

Dan yang terakhir, terimakasih banyak kepada semua temen-temen, terutama temen-temen dari Run Malang Run yang sudah memberikan dukungan dan doa serta semangat sehingga kami dapat menyelesaikan project ini.

Terimakasih semuanya atas bantuan dan dukungannya, cerita indah ini tak akan saya lupakan seumur hidup saya, peluk hangat satu buat kalian semua. Salam, Imam Ahmad :)
READ MORE - Jatim Ultra 100K

Friday, December 18, 2015

Critical Eleven

A National Best Seller Novel, Writen by Ika Natassa.

Saya mau bayar hutang dulu, suapaya tidak ditagih terus. Walaupun tidak ditagih juga, saya hanya takut di akhirat nanti saya gagal masuk surga karena perkara saya lupa membayar hutang untuk menulis review sebuah novel. Hahahhaha

Novel ini berjudul Critical Eleven, hadiah ulang tahun saya. Novel ini sampai ke tangan saya hasil kiriman seorang teman dari jember, Nandan Gilang namanya. Thanks sis atas bukunya ! :))

Awalnya sedikit pesimis sama buku ini, dari penulis sampai judulnya sangat asing bagi saya. Asing? Ah atau hanya saya saja yang tidak banyak tau tentang dunia perbukuan. Tapi, karena penasaran dengan embel-embel tulisan "National Best Seller" yang terpampang dibagian atas cover buku ini, alhasil saya coba baca saja. Sebenernya saya ini orangnya pemilih untuk membaca sebuah buku, karena saya ga mau rugi membuang banyak waktu hanya untuk membaca buku yang tidak bagus. Sombong banget memang saya hahaha

Oke, kita langsung saja membahas isi dari novel ini dalam sudut pandang saya sendiri. Jujur, untuk novel drama romantis saya tidak terlalu berpengalaman, sehingga selalu ada kejutan buat saya ketika membaca hal yang jarang saya baca. Hal pertama yang saya perhatikan sebelum membaca buku ini adalah pembatas bukunya. Tampilannya seperti boarding pass penumpang pesawat, disana tertulis nama dua orang yang akan menjadi aktor dan aktris dalam novel ini, namanya Aldebaran Risjard dan Tanya Baskoro.

Critical Eleven ini adalah istilah dalam dunia penerbangan yakni 11 menit paling kritis di dalam pesawat, tiga menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Ale dan Anya bertemu dalam penerbangan jakarta-sydney, tiga menit pertama anya terpikat, tujuh jam duduk bersebalahan dan saling mengenal, delapan menit sebelum berpissah ale yakin dia menginginkan anya.

Karakter Ale dibuku ini dibangun dengan sangat rapi, dia adalah seorang "tukang minyak" yang bekerja di luar negeri, hidup di tengah laut, lulusan teknik perminyakan di sebuah universitas di amerika, anak Footbal america di zaman kuliah, pecandu kopi dan senang makan ketoprak ciragil. Ale digambarkan sebagai orang yang hangat, gagah, elegan, humoris dan penyayang. yang terakhir sangat ditekankan, karena dengan sifat itulah ia dapat bertahan dalam cerita ini. Ale, juga digambarkan sebagai lelaki berani, bertikai dengan sang ayah karena berbeda pandangan dan nekat kabur dari rumah kemudian kuliah di luar negeri.

Karakter Anya tak kalah dengan karakter Ale, dibuku ini Anya digambarkan sebagai seorang wanita cantik, anggun, penyayang, mandiri, seorang konsultan, kerjaannya bolak balik luar negeri. Tapi, layaknya seorang wanita hatinya cepat rapuh.

Awal pertemuan mereka diceritakan sangat menarik, hingga 5 tahun setelah pertemuan pertama mereka di pesawat akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Namun, pernikahan mereka harus rela dijalani dengan resiko berjauh2an. Karena Anya kerja di indonesia dan Ale kerja di luar negeri. 5 Tahun pernikahan mereka sangat mulus, penuh cerita romantis ala pasangan yang baru menikah. Namun tragedi terjadi ketika anya mengandung anak pertamanya.

Ale dan Anya yang harusnya dapat mendengarkan tangisan anak pertamanya harus menelan kenyataan bahwa sang anak sudah diambil oleh Sang pencipta beberapa jam sebelum ia dilahirkan. Rasa terpukul calon orang tua sudah pasti terjadi, namun Ale sebagai suami harus mampu tegar menenangkan suasana kacau keluarganya. Tapi, blunder bagi Ale ketika ia "keceplosan" mengatakan jika saja Anya tidak sibuk mungkin Aidan-nama yang akan diberikan pada anak mereka-masih hidup.

Dengan kondisi rapuh dan merasa bersalah, Anya semakin sakit ketika mendengar kata2 Ale. Seolah2 dituduh atas kematian anaknya yang pada dasarnya sangat ia harapkan untuk hadir dalam kehidupan keluarga mereka. 5 Bulan Ale dan Anya hidup berjauhan walaupun serumah. Ale yang merasa bersalah dan ingin memperbaiki hubungan namun Anya sudah terlanjur sakit dan semakin menjauh.

5 Bulan Ale berusaha dengan sekuat tenaga mendapatkan kembali Anya yang dulu, namun 5 bulan Anya merasa hidup dalam neraka. Buku ini sangat rapi menceritakan kisah pertikaian dari sudut pandang bergantian dari sisi Anya dan Ale. Hingga puncaknya Ale dan Anya akhirnya menemukan cara untuk bersatu kembali.

Rasa kehilangan yang mendalam keduanya digambarkan sangat kental, dengan itu pula mereka akhirnya disatukan kembali. Mereka mengerti kehilangan adalah awal untuk mendapatkan yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik. Anya hamil anak keduanya, ketika mereka sepakat dan saling mengerti bahwa aidan menginginkan mereka bersatu kembali.

Kalo nulis detail ceritanya sih panjang, tapi alur ceritanya sangat simpel sebenernya. Ale dan Anya bertemu-menikah-bertikai-kembali bersatu. Layaknya critical eleven, Ale dan Anya memutuskan untuk bersama-5 tahun menikah-bertikai karena kehilangan anak mereka-Ale dan Anya memutuskan bersatu kembali dengan mengikhlaskan anak mereka. Awal dan akhir yang merupakan keputusan kritis antara Ambil atau tidak dan lanjut atau putuskan.

Saya, selesai membaca buku ini hampir menangis harus karena endingnya yang terlalu haru dan seru. Cerita pertikaian mereka yang rumit sering membuat saya bergumam dan menuduh salah satu pemeran sangat lebay hahahah tapi overall buku ini saya berikan nilai 8,5 dari 10. You must read this novel.

Sepertinya karena novel ini saya mulai ketagihan membaca genre ini, sering dibikin baper karenanya mumpung ini musim hujan. 

Mungkin cukup dulu deh reviewnya, ngetiknya pegel cuy. kalo ada yang mau ditanyakan tentang novel ini langsung tanya ke penulisnya aja ya. hahahah kalo nanya saya tulis di coment aja. salam !
READ MORE - Critical Eleven

Sunday, November 8, 2015

Memetik Rintik Hujan

Saya menulis lagi setelah sekian lama menghilang, ah sebenernya bukan menghilang, hanya vacum. Saya begitu banyak menekuni hoby namun begitu sering memilih vacum untuk beberapa hoby yang menurut saya sulit untuk dijalankan bersama, hingga kini saya cuma menjalankan beberapa hoby saja, contohnya lari dan mendengarkan lagu.

Mungkin saya cuma mau kasih tau kenapa saya sekarang menulis lagi. Sekarang ini bulan november, bulan yang penuh rasa bagi saya. Di bulan ini saya lahir, di bulan ini saya merasakan bahagianya cinta dan kecewanya asmara, di bulan ini pertama kalinya hujan jatuh di tahun ini, November Rain. Gejolak rasa yang saya rasakan di bulan ini sangat kuat, sepanjang tahun saya cuma menantikan bulan ini datang, karena di bulan ini indra perasa (re:perasaan) saya meningkat dan memuncak sampai tak tertahankan. Itulah mengapa saya rasa harus menulis kali ini. Tulisan yang mungkin tidak berbobot, hanya saja saya rindu menulis lagi.

Mungkin kalau kalian pernah membaca tiga postingan saya sebelumnya, kalian akan mengetahui kalo saya ini orangnya sangat perasa terutama terhadap sebuah lagu. Ya, hanya dengan sebuah lagu perasaan saya bisa berubah-ubah. Seperti yang sudah saya tuliskan pada postingan sebelumnya, saya begitu menyukai musik suasana, semacam aliran acoustic ataupun indie folk seperti milik Payung Teduh, Banda Neira, Sore, Efek Rumah Kaca, Layur dan lain lain. Sekarang, saya makin menggila dengan musik semacam ini. 

Hujan jatuh tepat saat saya sedang melamun, atau mungkin saya melamun tepat saat hujan sedang jatuh, saya putuskan untuk mendengarkan lagu yang beberapa hari ini saya temukan dan langsung saya sukai. Perasaan saya berguncang karena lagu itu memiliki banyak sekali petikan, ya petikan senar gitar yang sama banyanknya dengan rintik hujan yang jatuh pada saat ini. Bahkan saat saya menulis ini, rintik hujan, petikan gitar dan lincah jari saya menekan tombol keyboard berlomba. Saya selalu suka lagu dengan petikan gitar yang banyak, apalagi jika lagu itu memang ditujukan pada suasana hujan, tidak tahan rasanya untuk tidak melamun dan bermimpi, namun disela mimpi selalu terngiang masa lalu yang pernah menyakiti hati. Ya, hujan memang membuat tingkat perasaan naik turun dengan cepat. Gelombang yang diciptakannya sangat dahsyat.

Begini, pernah nggak ngeliat adegan di tv atau di video klip ketika seseorang sedang menatap kaca jendelanya yang basah karena rintikan hujan, sementara backsound yang mengiringinya tidak kalah menyayat. Pikiran melayang abstrak entah memikirkan yang indah atau yang buruk, semua terjadi dalam satu gelombang, karena hujan dan lagu. Tapi apapun perasaan itu, apapun pikiran itu saya selalu suka dan menikmatinya.

Kombinasi sempurna antara hujan dan lagu menimbulkan efek bermacam macam pada perasaan dan fikiran, namun setiap orang memiliki penilaiannya masing masing. Namun bagi saya, aroma tanah basah, suasana sejuk, ribut rintik hujan di genteng kontrakan, jendela yang berembun dan basah, cucian basah yang menumpuk karena harus diangkat itu punya jutaan makna indah di hati saya. Berlebihan sekali saya ini atau kata anak gaul sekarang sih, Baper. wkwkwk

Oh iya, sekarang saya lagi nyusun skripsi loh, doakan ya semoga maret bisa make toga. Sekarang saya juga sedang tidak dengan siapa2, saya memutuskan lebih senang sendiri selama musim hujan ini entah sampai kapan setidaknya sampai tuhan mengirimkan yang tepat. Saya juga lagi suka lari akhir akhir ini, setidaknya dengan berlari saya bisa melupakan beberapa masalah yang terus membebani pikiran saya. Maaf ya saya menulis hal yang tidak penting buat kalian :D

Sekali lagi saya cuma ingin berbagi yang ada di fikiran saya, setidaknya kalian tau kalo saya suka hujan dan suka lagu indie folk yang punya banyak petikan gitar. Selamat datang hujan, keberkahanlah yang membawamu turun ke bumi ini. Semoga bisa menghidupi banyak perasaan manusia yang kacau.

Jangan membenci hujan, ia datang atas nama Tuhan. Perkara musibah dan keberkahan yang ia datangkan itu hak Tuhan, kita hanya ditugaskan menikmati dan mensukurinya -Imam Ahmad-

dengarkah? Jantungku menyerah, terbelah di tanah yang merah
Gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering
melemah dan melemah
Hujan, hujan jangan marah... -Efek Rumah kaca, Hujan Jangan Marah-
Untuk menutup berikut saya bagikan beberapa musik favorit saya ketika hujan turun, selamat menikmati, selamat mensyukuri dan SELAMAT DATANG HUJAN !
1. Benjamin Francis Leftwich - 1904

2. Ben Howard - Gracious

3. Kodaline - All I Want
4. Danilla - Ada Disana
5. Alunan Semesta - Berharap Hujan
6. Hivi! - Dear Friend
7. Efek Rumah Kaca - Desember
8. Sore - Musim Hujan
9. Banda Neira - Hujan Di Mimpi
10. Nadya Fatira - Bintang Yang meredup

11. Payung Teduh - Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan

Sekali lagi, nikmati lagunya sambil hujan atau selepas hujan ya! see you next post ! mwah hahahahah




READ MORE - Memetik Rintik Hujan

Saturday, May 23, 2015

Pagi, Siang, Malam dan Sore hari.

Ini adalah untuk pertama kalinya saya nulis blog diwaktu sore hari. Biasanya aja mungkin bagi orang2, tapi bagi saya istimewa sekali suasana sore itu. Tidak sepanjang postingan biasanya, kali ini saya cuma ingin mencurahkan rasa yang sering saya rasakan ketika sore datang.

Pengenalan saya kepada suasana waktu begitu dekat ketika saya mulai mengenal aliran musik jazz folk yang datang dari aliran band indie. Suka satu lagu, kemudian suka yang satu lagu hingga menyebar seperti efek domino. Dengan cepat saya banyak mengenal band, duo atau solo singer musik folk indie ini. Entah memang karena tidak ingin mengikuti jalur pasar yang ramai, aliran musik ini sangat cepat melekat pada rasa dan suasana. 

Ketika pagi datang, saya lebih suka musik dari Banda Neira, Tiga Pagi, efek rumah kaca. Seperti ada yang mengisi energi dalam jiwa ini ketika mendengar musik mereka. mereka seperti berbicara betapa indahnya suasana pagi. segar udaranya, hangat mentarinya, damai suasananya, sayang sekali untuk dilewati. Secangkir kopi, teh, atau susu sebegai teman karib di pagi hari sangat istimewa. Apalagi jika ditambah beberapa makanan kecil sekalian untuk sarapan pagi. Ya, Pagi adalah cara Tuhan memberi kita semangat untuk memulai hari yang tak kita ketahui akan seperti apa, tapi mengawalinya dengan energi dan semangat positif sangat berpengaruh pada akhir cerita hari.

Aktifitas pagi hari pasti sangat lelah, bahkan bagi orang-orang yang mungkin hanya tidur dan nonton tv dirumah. Siang hari adalah waktu yang tepat untuk menghela nafas panjang setelah bertarung melawan kesibukan hari. Siang hari adalah check point, dimana kita bisa me-reload energi dan semangat untuk menjalani sisa hari. Di waktu siang itu Tuhan sisipkan sebuah anugerah yang bernama "zuhur". Kenapa "zuhur" diletakkan pada siang hari? Alasannya ada banyak, salah satunya agar jiwa bisa tentram kembali untuk beraktifitas setelah berbicara kepada Tuhan. Suasana siang identik dengan kemalasan, bawaannya ingin tidur saja. Hahaha memang, siang terlalu rugi untuk ditinggalkan dengan bekerja keras. Istirahat sebentar diwaktu siang, karena tidur siang sebentar di siang hari cukup mengembalikan tenaga yang habis terkuras akibat aktifitas kerja pagi hari.

Hingga sampai kita diwaktu sore. Waktu yang paling favorit buat saya, entah mengapa. Pada waktu sore ada sebuah rasa, suasana, bahkan emosi yang tak terbendung. Rasa bahagia air mata, rindu, khayal, sedih. Ah, saya terlalu sering bawa perasaan kalo sore datang. Bahkan walaupun dua musim berbeda di waktu sore, suasana hati saya tetap tak terbendung. Jika diberi pilihan waktu untuk berbahagia, saya lebih memilih sore. Kenapa? Coba bayangkan, ketika sore datang ada banyak kegiatan yang bisa membawa kebahagiaan dan keceriaan dalam jiwa. Seperti, sebangun dari tidur siang panjang, kita terbangun di sore hari dengan energi dan semangat tinggi.  Sekedar duduk saja di teras rumah sembari menikmati kopi atau teh sore hari, menatap jauh ke awan yang berwarna mulai menjingga. Bercengkrama dengan sekitar, dengan keluarga, dengan tanaman kesayangan, dengan hewan peliharaan, dengan motor tercinta walau sekedar mengelap dan memperbaiki bautnya yang longgar kemudian menatapnya dengan tenang. Ahhh, nikmat Tuhan sangat dekat. Sore hari adalah waktu tercepat untuk berbahagia, bahkan dengan hal2 sederhana. Ingat sewaktu kecil? waktu terbanyak kita bisa bermain bersama teman adalah waktu sore hari. bermain gundu, bermain tali, bola, badminton, basket, kasti walaupun itu hanya di gang sebelah rumah. Bersama teman, gang empit terasa lapangan luas. Sering tetangga sekitar keluar membawa adik atau anak kecilnya yang baru saja dimandikan dan diberi bedak tebal di mukanya berjalan2 kecil hanya sekedar menikmati sore hari yang akan segera menjemput malam. Bayangkan dikala sore hari, dipuncak bukit, puncak gunung, atau tempat tinggi manapun yang daya jangkaunya jauh ke khatulistiwa sana, kita dapat duduk manis, sendiri, berdua dengan teman tersayang, atau sahabat yang lain menikmati saat-saat matahari akan menenggelamkan dirinya jauh diujung barat sana. Lukisan tuhan yang tak satupun makhluk didunia ini mampu menyamainya, keindahan langit jingga sore hari tiada duanya. Hanya membawa tawa dan senyum bahagia, serta rindu yang tersedat.

Saya terlalu membawa perasaan jika sore datang, saya sangat suka duduk membuka laptop atau smartphone atau buku, sembari telinga saya mengikuti nada musik yang dibawa dengan sangat istimewa oleh beberapa band favorit saya. Payung Teduh, Sore Band, Angsa dan Serigala, Fanaholic, Layur. Ahhh mereka terbuat dari apa sehingga saya begitu memahami rasa yang mereka salurkan dari lagu2 mereka. Sangat sangat indah! 

Malam Hadir, tak ada yang bisa menggantinya kecuali kehangatan. Keluarga atau sahabat dekat, mereka hebat dalam memberi kehangatan malam. Hingga saya sendiri kadang senang menanti datangnya tengah malam hanya untuk menikmati sunyinya dan dinginnya. Waktu malam waktu yang tepat untuk saya merenung. Masa lalu, masa sekarang, bahkan masa depan tak luput dari pikiran saya. Musik yang selalu menemani identik dengan makna keindahan malam dalam sunyi yang dibawanya. Seperti mengulang sebuah film pribadi, sangat egois rasa yang hadir jika tengah malam datang. Waktu yang tepat untuk bercerita perjalanan, bercerita keluh kesah, kepada Teman, keluarga lebih lagi kepada Tuhan. Ahh sudahlah, saya tidak kuat. Membawa perasaan yang terwakilkan dari musik dan suasana yang ada sangat sulit untuk diungkapkan. Tapi mungkin dapat kita rasakan nanti, jika kita berasama.

Sudah magrib, saya pamit. Nanti saya cerita lagi :)
READ MORE - Pagi, Siang, Malam dan Sore hari.

Monday, March 16, 2015

Tulisan Tak Berjudul

Ucapan selamat malam mungkin sudah biasa, sapaan segala suasana-pun mungkin sudah kadaluarsa, memang, awal perjumpaan sangatlah terasa, bahkan hingga akhir hayat hati ini berharap akan terus bersama, kepada siapapun yang merasa, aku tau memang ada jumpa dan ada pisah cerita, tapi ketahuilah, kepada jiwa jiwa yang biasa merasa, tidak perlu menerka, aku tau Tuhan akan selalu menjaga cerita kita sampai akhir tiba.

Malam ini, saya tidak tau apa yang ingin saya lakukan. Tugas ada, hanya nafsu untuk mengerjakannya yang tidak ada. Bahkan melihat note tentang tugas-pun saya tidak bergairah sama sekali. Ya, saya cuma tidak mau memikirkannya sejenak saja. Biarlah nanti the power of kepepet yang membantu saya. Saya hanya tak ingin lupa bahagia saja.

Nah, mungkin ini yang menjadi renungan saya akhir-akhir ini. Saya banyak berfikir kalo sebenernya siklus manusia itu memang memang  dan memang benar-benar sederhana. Kita hidup di dunia ini tidaklah banyak tuntutan. Coba pikirkan kutipan ini, "Hidup ini sangat sederhana, yang hebat hanya tafsirannya saja". Kutipan ini saya dapat dari teman dekat saya, emet. 

Disini saya hanya berargumen dan beropini sesuai kapasitas otak saya. Jadi, menurut saya kalau memang untuk melangsungkan hidup itu butuh kesederhanaan. Kesederhanaan yang bagaimana? begini. Untuk merubah mindset itu sulit, jadi saya coba jelaskan sederhana saja, biar kalian yang memikirkan kelanjutannya.

Ada dua pokok konsep yang ingin saya jelaskan disini, yaitu Bahagia dan Cukup. Dua konsep ini sangat berkaitan erat menurut saya. Coba pikirkan, betapa susah payahnya kita mencoba untuk bertahan hidup, kesulitan selalu datang disetiap usaha dan kegiatan kita. Keluhan pasti jadi sedikit celotehan kita. Contoh kecil saja ketika mengerjakan tugas dari atasan, dari dosen atau dari guru. Kesulitan sedikit saja yang kita hadapi pusingnya bukan main. Otak dan pikiran kita mulai memikirkan hal yang tidak-tidak, seperti dimarahi, dipecat, mendapat cemoohan, mendapat nilai jelek dan sebagainya. Mungkin disitu kita kurang tenang. Iya, cukup dengan ketenangan. Untuk dapat berfikir dan bekerja tenang, yang harus kita ingat adalah konsep Kebahagiaan. Kita, apapun keadaan kita, sesulit apapun kondisi kita, jangan lupa bahagia. Caranya? selipkan senyum disetiap kesulitan, selipkan tawa disetiap kesusahan. Karna dalam senyum dan tawa itu tersimpan energi positif yang luar biasa. cobain deh :))

Setelah menguasai konsep bahagia, yang harus kita kuasai selanjutnya adalah konsep cukup. Cobalah pikirkan untuk selalu merasa cukup. Konsep cukup ini bisa dikatakan sama dengan konsep syukur. Cobalah bersyukur dengan segala keadaan kita. cobalah merasa cukup dengan segala kebutuhan kita. Gimana caranya bisa menguasai konsep cukup ini? Simple, coba keluar rumah, jangan bawa gadget, main-main ke pasar, perhatikan aktifitas disana, coba main-main ke simpang jalanan, perhatikan aktifitas disana, atau yang lebih bagus cobalah traveling ke pelosok daerahmu, cermati aktifitas penduduk disana. Lihat cara mereka hidup, cara mereka kerja mencari makan, lihat segalanya yang bisa dilihat. Cermati dan teliti kemudian renungi, bandingkan dengan kehidupan kita. Bukankah kita lebih memiliki dari mereka? :)

Nah, jika kita sudah bisa berbahagia dalam keadaan sulit, kemudian selalu merasa cukup dalam setiap kebutuhan kita. Apalagi yang kita butuhkan? Pikirkan, jika kalian sudah menguasai dua konsep pokok itu, tak akan terpikir untuk memiliki harta, tak akan terpikir untuk menjadi penguasa, tak akan terpikir ambisi besar yang membutakan. Cukup, cukup, cukup, dan jangan lupa bahagia. hanya itu saja :)

"Hiduplah dengan sederhana, merasa cukuplah dengan segala kebutuhan, tersenyumlah dalam setiap kesulitan. Ingat, jangan lupa bahagia dan jadilah orang yang kaya jiwa"-imam ahmad-

Ya, saya tidak bisa bahas panjang dua konsep diatas, kemampuan saya bercerita dengan tulisan sangatlah terbatas. Jika kalian ingin mengetahui lebih panjang, mungkin nanti kita bisa ngobrol santai untuk membahas ini sambil ngopi atau ngeteh ceria bersama :)

Oh iya, sekedar info saja, ketika menulis ini, playlist music saya sedang memutar lagu dari kitaro. Kitaro ini adalah seorang maestro musik dari jepang, musiknya sudah banyak digunakan diberbagai ajang di dunia. Musiknya terkenal menyentuh dan menyayat hati. Saya suka kitaro dari kecil, bahkan dari kitaro inilah saya mulai menyukai musik instrument. Lagu-lagunya cocok untuk menjadi lagu pengantar renungan kita. Sangat meneduhkan dan nyaman.

Akhir kata, silahkan menyimak musik favorit saya ini. Judulnya saya tidak tau, yang jelas ini lagu yang paling saya sukai dari lagunya kitaro. saya taruh di soundcloud. Enjoy =))
READ MORE - Tulisan Tak Berjudul

Sunday, March 1, 2015

Terimakasih Atas Otak Untuk Berfikir Ini, Tuhan.

Penghujung februari 2015 sudah terlewat, dan kini menginjak awal maret 2015. Saya hampir bersiap memasuki masa kuliah semester 6, masa yang katanya banyak terjadi kebosanan dan kemalasan dalam kuliah karena merasa senior dan mulai merasa menemukan hal yang lebih keren dari pada di bangku kuliah. Ini hanya intro, sekarang kita masuk ke inti cerita.

Seperti yang saya suka, hujan di malam hari yang dingin dan sepi. Layaknya pemeluk kegelisahan hati dan pikiran yang tak kunjung usai. Malam ini, suasana itu datang lagi, suasana yang sudah lama menjangkit otak dan pikiran saya. Maka dari itu, lahirlah tulisan ini. 

Seperti sewajarnya dan tak perlu untuk diperdebatkan, manusia hidup tentu penuh permasalahan di dalamnya. Namun datangnya masalah akan dibarengi dengan datangnya hidayah. Mengapa bisa begitu? seperti ini juga, adanya keindahan akan dibarengi dengan adanya ketidak-indahan, adanya kebahagiaan akan dibarengai dengan adanya kesedihan. Mungkin sudah banyak yang menyadari hal ini, namun tak sedikit pula yang tidak memahaminya. Sadarlah, kita punya otak. Kelebihan kita dibanding makhluk ciptaan tuhan lainnya adalah kita memiliki otak untuk berfikir, jadi malam ini saya akan mengajak anda untuk sedikit berfikir.

Sebagai seorang muslim, saya mempercayai kitab suci Al-Qur'an sebagai firman Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW sebagai pedoman hidup. Namun disini saya tidak membicarakan tentang Al-Qur'an, saya hanya mengutip beberapa firman Allah yang ada dalam Al-Qur'an. Perhatikan surat Al Mu'min [40.54] yang artinya "Untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir". Disini saya cuma ingin menggaris bawahi kata-kata terakhir, yakni "bagi orang-orang yang berpikir". Oke, mari sejenak kita berpikir.

Dari sekian banyak kata yang ada, Tuhan menyinggung umatnya dengan kata "berfikir". Disini saya coba memahami maksudnya dan tiba pada kesimpulan bahwa memang segala sesuatu yang ada di dunia ini jika dilihat sekilas hanya biasa saja, terasa standar. Namun jika dilihat dari banyak sudut pandang barulah terlihat kilaunya. Saya sempat chatting dengan sahabat dekat saya 'emet' dan entah mengapa dia mencoba menyinggung tentang sebuah kalimat "Ketidak-indahan adalah keindahan yang paling kecil". Saya harus memeras otak untuk memahami makna kalimat teman saya itu. Memang dia sering berbicara yang hanya segelintir orang saja yang mengerti. Tapi itu yang suka dari dia. Dan tibalah saya pada kesimpulan tentang kalimat itu, begini :

Definisi umum keindahan bagi rata-rata orang adalah suatu hal yang mengundang decak kagum, suatu hal yang membuat tersanjung dan terpesona. Contohnya adalah melihat pemandangan alam, melihat wanita cantik atau pria tampan dll. Keindahan juga tak jarang didefinisikan sesuatu yang membuat hati senang dan bahagia seperti keindahan ketika berkumpul bersama keluarga dan teman. Sedangkan definisi ketidakindahan adalah kebalikan dari keindahan, hal yang tak enak dipandang mata, hal yang tak enak dirasakan, hal yang tak enak difikirikan bahkan terlalu malas untuk menafsirkannya. Sekarang lihat kedua gambar dibawah ini :

 sumber : google Image

sumber : google Image

Sekarang lihat gambar raisa di atas, cantik, indah, ciptaan tuhan yang hampir sempurna, banyak lelaki menyukainya dan wanita yang mengaguminya. Raisa itu definisi keindahan. jelas. Kemudian perhatikan gambar yang di bawahnya, foto yang sempat tenar beberapa tahun yang lalu, foto ini di ambil disebuah negara di afrika yang mengalami masalah kelaparan. Seorang anak kurus tertunduk bahkan hanya diam, mungkin sudah mati dilihat dari adanya burung bangkai di belakangnya. anak itu adalah definisi ketidak-indahan karena miris hati melihatnya, sedih menatapnya bahkan tak jarang jijik untuk sekedar memandang lama gambar anak bernasib malang tersebut.

Lalu, korelasi dari kalimat teman saya "Ketidak-indahan adalah keindahan yang paling kecil" dengan kedua gambar itu dimana??? Pikirkan. Pikirkan. Pikirkan dengan baik, sobat. Disini saya tidak ingin membandingkan raisa dengan anak yang kelaparan. Tetapi mengarahkan kalian untuk mencoba berfikir bahwa gambar anak itu sebenarnya adalah maksud dari 'keindahan terkecil yang tuhan ciptakan'. Kenapa bisa?

Begini, pernahkah kalian memikirkan arti kata bersyukur? cobalah berterimakasi pada Tuhan Yang Maha Memiliki. Bersyukurlah pada-Nya karena kita masih diberi kehidupan yang sangat-sangat layak. Sekarang saya coba mengajak kalian membandingkan kehidupan kalian dengan beberapa orang yang memiliki definisi tidak indah. Betapa kita sangat berkecukupan (ini asumsi saya karena jika kalian baca ini, kalian adalah orang yang memiliki laptop dan gadget canggih). Kita sungguh beruntung memiliki kehidupan yang layak bila dibandingkan dengan saudara kita yang memiliki nasib tidak baik. Bandingkan kita yang masih bisa makan sehari 3 kali atau sehari dua kali dengan mereka yang syukur-syukur bisa makan sekali seminggu. Jika sudah kalian bandingkan sekarang fikirkan ini "Tuhan menciptakan mereka yang bernasib tidak baik untuk orang-orang yang bernasib baik". baca dan pikirkan maknanya.

Kesimpulan saya adalah, foto anak kelaparan itu adalah keindahan kecil yang Tuhan ciptakan bagi kita, bagi orang-orang yang berfikir. Indah sekali cara Tuhan menegur kita yang bahkan untuk mengucap syukur sekali seharipun tak mampu. Indah sekali cara Tuhan memperlakukan kita yang serba ada ini. Indah sekali cara Tuhan menghidupi kita, tidak seperti mereka yang bernasib tidak baik. Anak itu bukan korban, namun berupa teguran dari Tuhan. Teguran untuk kita fikirkan. Indah sekali gambar anak kecil yang mungkin sudah mati itu. Indah sekali sehingga saya sadar kalau saya ternyata masih memiliki nasib yang lebih baik dari dia. Bersyukurlah sobat.

Jadi, intinya disini untuk melihat sesuatu jangan hanya dari satu sudut pandang saja. Kita memiliki otak yang mampu mengolah sesuatu dari ribuan sudut pandang. jika itu kalian lakukan, maka kita akan datang pada suatu kesimpulan yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya. Semoga postingan kali ini dapat bermanfaat. Dan dipostingan selanjutnya saya akan membahas sesuatu yang merupakan sambungan dari postingan ini. Postingan tersebut nantinya akan menyinggung kalimat ini, kalimat yang saya ciptakan sendiri.
"Jika kita berbicara tentang kebahagiaan, kita juga harus berbicara tentang kesedihan". Saya akan berbicara tentang dua mata koin yang berbeda. Sampai jumpa :)
READ MORE - Terimakasih Atas Otak Untuk Berfikir Ini, Tuhan.

Tuesday, January 27, 2015

38 jam perjalanan

Izinkan saya memulainya dengan kalimat "Jangan katakan padaku bagaimana pendidikanmu, katakan padaku seberapa banyak kamu telah melakukan perjalanan - Nabi Muhammad SAW".
 
Saya rasa malam ini malam yang tepat untuk menulis postingan kali ini, kenapa? karena ini malam rabu dan saya baru selesai makan malam. sangat sempurna.

Yak, kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya kemarin berkunjung ke sebuah wilayah di jawa timur, Taman Nasional Baluran dan Kawah Ijen di Banyuwang. Mungkin dua tempat itu sudah sangat familiar di telinga sebagian orang apalagi bagi para pecandu perjalanan dan keindahan alam.

Menurut saya, 'lebih baik telat dari pada tidak sama sekali' itu ada benarnya. Soalnya saya merasa telat untuk tahu dua tempat itu, saya sering mendengar ceritanya saja, melihat foto-fotonya saja di twitter atau instagram. Tapi itu tidak menurunkan niat saya untuk ada di tempat itu dan menyaksikan sendiri pesona alam yang ada disana. Dari pada tidak sama sekali, bukan?

Dimulai dari jadwal kuliah yang padat hingga UAS tiba, nyaris saya tidak memiliki waktu untuk sekedar bersentuhan langsung dengan jalan setapak padang savana atau persenggolan langsung dengan tumbuhan liar di hutan. Tapi ahirnya semua terbayar dengan perjalanan saya mengunjungi dua tempat itu. 

Hari kamis(22/01/15), jadwal terahir UAS. Sebelum semua beban di semester 5 ini lepas, saya setengah bahagia karena ajakan teman saya untuk mengadakan travel panjang mengunjungi tempat paling timur di pulau jawa, banyuwangi. Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan setelah dia sedikit memaparkan beberapa planning dalam tripnya. Fix, kita akan berangkat pada hari sabtu (24/01/15), menggunakan dua buah motor, hanya oleh 4 orang saja. Rute kita, Kota Malang - Banyuwangi.

Seumur hidup saya tidak pernah membawa motor sendiri untuk perjalanan jauh, dan jarak Malang-Banyuwangi sekitar 282 km. Itu sudah cukup syarat untuk mendirikan sholat jama'. berarti perjalanan saya sudah termasuk perjalanan jauh. Tapi ini kesempatan besar yang ga boleh terlewat, kapan lagi bisa bawa motor jauh-jauh :))

Hari sabtu tiba, kita mulai perjalanan pukul setengah 4 subuh. Setelah mengisi bahan bakar di pom bensin terdekat, kita langsung melesat cepat meninggalkan dinginnya kota malang yang sudah mulai sibuk dengan aktifitas pagi. Sampai di probolinggo, ban motor teman saya pecah.

Memang selalu ada kejutan ditiap perjalanan, karena itulah daya tarik sesungguhnya. Pukul setengah 6 pagi, setelah bertanya, akhirnya kita menemukan sebuat tempat tambal ban yang sebenarnya belum buka jika kita tidak datang. Yang menarik adalah, ketika menunggu ban ditambal, kami kedatangan tamu yang sangat baik. saya lupa nama bapak itu, namun dia sangat cepat akrab, dia bercerita tentang masa mudanya yang penuh dengan perantauan, dia pernah bekerja di kalimantan, sulawesi bahkan malaysia sebagai tenaga kerja indonesia. Dia banyak menguasai bahasa, dan dia bercerita menggunakan campuran bahasa daerah dari kalimantan, sulawesi, madura, jawa. Otak saya hanya mampu menerjemahkan 20% dari ceritanya karena bahasa bicaranya yang sangat 'semrawut'. Tapi disini saya belajar satu hal, oleh bapak itu kami berempat diberikan sarapan pagi dan kopi, semuanya gratis. Saya heran, kok bisa ada orang seperti ini? Tapi pertanyaan saya terjawab langsung dari perkataan bapak itu, "Saya dulu hidup susah, dan pergi merantau keluar jawa nak, saya pernah ke Kalimantan. Saya diberi kebaikan disana, saya diberi pekerjaan oleh orang sana, dan saya rasa saya harus membalasnya dengan memberi kebaikan pada orang lain juga sebagaimana saya diberi kebaikan dahulu ketika saya merantau". Dia sangat senang membantu para perantau seperti saya dan teman-teman. Ya, bapak itu tau kami berempat adalah perantau karena sebelumnya kami sempat diinterview nama, dari mana dan daerah asal.

Jam menunjukkan pukul 6, kami lanjut perjalanan. Matahari pagi perlahan naik ketika motor yang kami kendarai mulai membelah jalur pantura (pantai utara). Kami berhasil melewati ponorogo, kemudian besuki, paiton, hingga masuk ke situbondo ketika hari sudah mulai panas karena jam menunjukkan pukul setengah 10. Kita lanjut perjalanan hingga akhirnya pukul 11 kami tiba disebuah kawasan yang orang orang juga menyebutnya Afrika van Java. Itulah Taman Nasional Baluran.

Kami mulai masuk gapura taman nasional, kemudian membayar tiket masuk, satu orang dikenai biaya 15.000. Kemudian dari tempat pembelian tiket kami harus lanjut lagi mengendarai motor sekitar 45 memasuki kawasan taman nasional untuk sampai ke Bekol.


  
Bekol itu sebuah padang rumput yang sangat luas, ada beberapa pohon yang saya tidak tau namanya berdiri sendiri, menambah indah pemandangan.  

Selepas dari bekol, kita menuju bama, sebuah pantai yang indah. ada banyak monyet disana, kita juga bisa melihat penangkaran burung, tapi saya tidak sempat berlama disana karena harus melanjutkan perjalanan. Pukul 12, setelah sholat zuhur di musholla, kita meninggalkan Taman Nasional Baluran dan langsung menuju ke destinasi utama kita, Kawah Ijen.

Perjalanan terhenti karena rasa lapar, dan kita mampir membeli makanan di sebuah lesehan di pinggir jalan. Sembari mengisi perut dan melepas lelah saya dan teman-teman berbaring ria di lantai lesehan yang waktu itu hanya kami saja pengunjungnya, ditambahi hujan yang turun menambah rasa manja kita berguling-guling di lantai lesehan. Akhirnya makan selesai, kita mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar dan sholat ashar.

Selepas sholat ashar kita lanjut perjalanan lagi, hingga akhirnya kita sampai di kawah ijen. Medan yang kita tempuh lumayan asik, karena masuk hutan dan melewati jalan yang berkelok tajam dan tanjakan curam, kalo kalian pernah ke bromo, tidak jauh beda medan yang dilalui ketika ke kawah ijen dengan ke penanjakan bromo. cuma yang di kawah ijen, jalanannya lebih mulus.

Magrib ketika kami mulai memarkir motor, dan mencari tempat beristirahat untuk mengisi perut yang lapar. Satu warung makan kami datangi untuk beristirahat, makan kemudian tidur sebentar walaupun tidak nyenyak karena suara berisik pengunjung lain disertai dingin yang sangat menusuk tulang. Rencana kita akan mulai pendakian pukul 12 karena kita akan melihat blue fire (api biru). pukul 12 tiba, kami mulai siap2 dan berangkat mendaki, ramai sekali waktu itu karena malam minggu mungkin. Pembayaran tiket 3.500 untuk satu orang + 4000 untuk satu motor, jadi dua orang satu motor = 11.000.

Sekitar satu jam mendaki, akhirnya kami sampai di kawah ijen, dan seperti khasnya, bau belerang mulai menyengat disana sini. Dari atas terlihat blue fire yang kami cari, letaknya di dasar kawah. Kami harus turun lagi untuk melihatnya lebih dekat, dan ternyata jalur turunnya sangat curam, berabatu dan licin serta kita harus mengantri untuk dapat turun kebawah karena jalur yang dilewati sangat ramai oleh pengunjung lain. Hingga akhirnya saya lebih dekat dengan blue fire, waktu melihat blue fire memang pada malam hari karena kalo siang hari tidak akan kelihatan. Ah, saya ingat.

Ketika saya lebih dekat dengan blue fire, suasana sekitar ramai, namun gelap, yang terlihat hanya lampu senter dari para pengunjung. Saya merasa tidak enak ketika mulai menghirup bau belerang yang makin menyengat, tiap detik terlewat makin menyengat bau belerang itu hingga pandanganpun mulai terganggu karena ternyata asap kawahnya makin tebal. Karena tak tahan, saya buru-buru naik ke atas lagi agar terhindar dari asap kawah. Namun tak mudah cepat naik ke atas, selain jalurnya curam, ramainya pengunjung semakin memperlambat gerakan saya. Saya mulai batuk-batuk, tenggorokan terasa gata, masker yang saya gunakan pun tak mempan menahan bau asap belerang. Nafas dan detak jantung saya mulai tak beraturan, diiringi dengan tenaga saya yang hampir habis karena bergegas menuju ke atas. Saya merasa hampir pingsan, tapi di otak saya terpikir "gila apa dateng jauh2 untuk mati disini, ah naik aja ntar juga nyampe". sugesti itu seperti penolong, ketika saya akhirnya sampai diatas jauh meninggalkan dasar kawah sumber asap itu.

Saya mulai atur nafas, badan sudah agak membaik, angin semakin menyengat tubuh saya, saya mulai menggigil kedinginan. waktu itu masih pukul setengah 4 subuh. Karena lelah dan juga sambil menunggu matahari terbit, kami berempat beristirahat di lereng gunung, disana ada banyak tempat semacam aliran air, kami masuk kesana untuk berlindung dari angin. Dan kamipun tertidur.

Pukul 6, kami bangun, dan mulai melihat pemandangan pagi dari atas gunung, dan satu yang terucap, Subhanallah indah sekali !



Ah pengalaman yang asik, hampir mati, kemudian disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Kapan kapan kesini lagi ah, sama kamu neng~

Akhirnya kamipun turun menuju tempat parkir motor, dan berangkat pulang. Dari Kawah Ijen, kami melewati bondowoso, kemudian probolinggo, hingga sampai di kota malang ketika azan magrib terdengar.

Perjalanan panjang yang cukup membuat badan pegel-pegel karena harus memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi selama berjam-jam. Tubuh saya yang belum terbiasa akan hal itu merasa sangat capek. Yah namanya juga pengalaman pertama, ngeri ngeri sedap lah.

Sebenernya ada banyak cerita saya tentang perjalanan ini, tapi kalo ditulis semua, mungkin ga cukup untuk satu postingan, intinya saya dapat beberapa pelajaran dari perjalanan istimewa ini. Next time harus lebih jauh jalan-jalannya hahahahha

Akhir kata, izinkan saya menyampaikan quote yang saya buat sendiri "Berjalan-jalanlah agar kamu tahu harga es teh di daerahmu dan daerah orang lain". see you next post and keep traveling !
READ MORE - 38 jam perjalanan